Pendingin Ikan Bertenaga Surya kepada Kampung Nelayan Indonesia, yg (Hampir) Terlupakan

Dengan bergeliat & gencarnya pemberitaan Kementerian Perikanan kepada bawah Ibu Susi, pembaca online jadi mengikuti lebih dalam bidang perikanan kepada negara maritim kita, Indonesia. Dan problem yg kini sedang marak jadi bahan pembicaraan adalah menangkapi kapal asing liar yg memancing kepada perairan Indonesia. Sayangnya, muncul hal krusial lain yg luput diangkat sang media adalah kerugian nelayan kita karena nir adanya fasilitas pendingin ikan yg memadai.

Nah… berapa kerugian nelayan karena nir adanya fasilitas pendingin ini? 15-30%. Tinggi ya! Jadi sanggup dibayangkan, nelayan Indonesia itu selain wajib berpacu beserta kapal asing yg mungkin lebih sophisticated juga ternyata jika ikan sudah tertangkap pun wajib merugi karena 15-30% imbas tangkapannya nir segar, amis atau membusuk & tidak layak jual karena nir adanya fasilitas pendingin ikan ini. Untuk itu, hampir seluruh ikan yg muncul dikeringkan & jadi ikan asin, karena memang itulah jalan satu-satunya nelayan buat mengawetkan ikan saat ini. Padahal nir seluruh pendaftar ikan ingin ikan asin.

Jila melihat penjualan ikan kini ini kepada Jerman, ikan dari Vietnam nir hanya memenuhi lemari pendingin kepada toko-toko Asia akan akan tetapi juga kepada pasar pasar swalayan-pasar pasar swalayan akbar Jerman. Terutama impor ikan pangasius atau ikan patin dari Vietnam walaupun bermasalah akan akan tetapi permanen saja mendominasi impor ikan patin kepada Jerman. Jerman tahun 2010 mengimpor ikan patin sebesar 50.000 ton. Nah… dari aku beserta diragukannya kualitas ikan dari Vietnam ini, harusnya menjadi peluang ekspor ikan bahari Indonesia masuk Jerman, ya kan.

Kerugian 15-30% itu, keterangan yg aku baca dari sebuah kitab, yg belum usang ini aku pinjam kepada perpustakaan kepada Jerman. Buku berisi karya ilmiah yg dimuntahkan tahun 1997, yg mana galat satunya berisi penelitian orang Jerman perihal kenapa pendingin kuat matahari kepada Indonesia nir berhasil. Padahal proyek pilot penelitian ini pernah muncul tahun 1986 dilakukan antara BMFT & BPPT dalam proyek Sonnendorf Indonesien. Tapi selesainya penelitian terselesaikan, perangkat lunak terhenti & nir meluas kepada bidang ini tanpa untung yg berarti buat para nelayan.

Sungguh disayangkan bahwa perangkat lunak pendingin ikan kuat matahari ini nir meluas, padahal matahari kepada Indonesia kan melimpah, nir perlu sambungan listrik apalagi kalau kampung nelayannya terpencil. Lalu saat aku browsing kepada Internet ternyata sebuah proyek rata sedang berjalansejak tahun  2013 sampai tahun 2014, akan akan tetapi kali ini beserta Swiss, buat memproduksi cold storage atau pendingin ikan kuat matahari kepada kampung nelayan Indonesia. O syukurlah, semoga nir hanya terhenti kepada situ saja & kali ini menyampaikan manfaat yg positif buat para nelayan. Menurut tautan ini, muncul 800 kampung nelayan mini kepada Indonesia, yg hampir semuanya tanpa fasilitas pendinginan ikan.

Sebetulnya teknologi pendinginan itu kini sudah sangat bermacam-macam. Entah itu, teknologi hardwarenya ataupun pilihan jenis refrigerannya, demikian juga asal energinya sanggup berbasis tenaga matahari, bio massa, tenaga angin dll. Jila 800 kampung nelayan ini sanggup difasilitasi pendingin, tentu produksi ikan Indonesia sanggup maju pesat. Teknologi tinggal mengarah & menerapkan, sebetulnya tunggu apa lagi? (ACJP)

Author: Dewi lestari

Hello I'm Dewi , welcome to my blog. It's been 8 years as a true blogger. Hobby writing is a wonderful thing in my life. Hopefully you find something useful in this blog Happy reading .....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *